Renungan Memuliakan Allah dalam Segala Hal

Memuliakan Allah dalam Segala Hal

04 Oct 2026 • Pdt . Mirdat Siahaan

Titus 2:1–10

Inti dari pasal ini ada di kata "supaya" (Yun: hina). Kata ini menunjukkan tujuan akhir dari semua perbuatan baik kita, yaitu untuk memuliakan Allah, bukan supaya kita dipuji.4 Pilarnya:1. Ajaran Sehat = Hidup Sehat (Ay 1)
Ajaran Firman bukan untuk pintar debat teologi, tapi seperti obat yang menyembuhkan kelakuan. Kalau ajarannya sehat, hidupnya pasti berubah. Percuma rajin ke gereja tapi masih menipu, memaki, dan dendam.2. Untuk Setiap Generasi (Ay 2-6)
Memuliakan Tuhan dimulai dari rumah:Orang tua: Jadilah teladan, jangan jadi pemfitnah/suka gosip, tapi jadi tiang penyangga bagi yang muda.Suami-Istri muda: Rukun, bijaksana, urus rumah tangga dengan baik. Tujuannya: supaya Firman Allah jangan dihujat. Kalau keluarga Kristen berantakan, orang luar akan menghujat Tuhan.Pemuda: Kuncinya satu: Kuasai Diri. Berani berkata TIDAK pada hedonisme, judi online, porno, narkoba, dan pergaulan bebas.3. Pemimpin Jadi Cetakan (Ay 7-8)
Titus sebagai pemimpin harus menjadi typos (cetakan/cap stempel). Orang dekatnya akan tercetak menjadi baik. Pemimpin tidak bisa hanya menyuruh, tapi harus memberi contoh nyata. Integritas = perkataan sama dengan perbuatan, sehingga lawan tidak dapat menemukan celah untuk menyerang iman kita.4. Memuliakan Injil di Tempat Kerja (Ay 9-10)
Sebagai karyawan/bawahan, bekerjalah dengan taat, jujur, jangan curang. Korupsi waktu, pakai fasilitas kantor untuk pribadi, mark-up nota = mencuri dan mempermalukan Tuhan. Ini bukan ketaatan buta pada penindasan, tapi soal etos kerja.Puncaknya di Ay 10: Dengan jujur kita sedang "memperindah / memuliakan ajaran Allah" (dari kata ini muncul kata kosmetik). Injil itu sudah sempurna, tapi hidup jujur kita yang mendandani Injil itu agar terlihat menarik di mata dunia.Dasarnya bukan kekuatan kita, tapi Kasih Karunia Allah (Ay 11) yang sudah menyelamatkan kita duluan.

Nas: Titus 2:1–10
Tema: Memuliakan Allah dalam Segala Hal

Tema inj merupakan wacana umum dalam hal beriman sebagai orang percaya. Bagi Paulus tentang
"Memuliakan Allah" justru terlihat di balik kata "supaya". Kata ini merupakan
kata yang menunjukkan tujuan akhir atau motivasi utama mengapa kita harus berbuat baik. Kita cermati tiga pilar
teologis Paulus pada ayat 5, Paulus menyuruh para istri hidup baik "Firman Allah jangan dihujat". Di ayat 8, Paulus mengatakan
kepada Titus memberi teladan ( Yun: “Hina” supaya)"lawan menjadi malu karena tidak ada hal buruk yang bisa dikritik". Di ayat 10, Paulus menyampaikan agar pekerja bekerja
jujur atau jangan curang “Hina” (supaya) "mereka memperindah ajaran Allah".
1. Ajaran yang Sehat Menghasilkan Hidup yang Sehat (Ayat 1)
Di awal pasal 2 ini, pesan pertama yang sangat tegas kepada Titus: "Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai
dengan ajaran yang sehat. Paulus tidak menyebut firman Tuhan,
itu bukan sebagai ajaran yang "logis" atau ajaran yang "pintar", melainkan ajaran yang "sehat. Ajaran firman Tuhan itu
bukan sekadar pengetahuan untuk mengisi otak agar kita pintar berdebat soal teologi. Ajaran firman Tuhan itu
ibarat obat yang harus menyembuhkan kelakuan kita yang sakit. Orang yang benar-benar mengerti ajaran Tuhan,
hidupnya pasti akan berubah secara praktis. Kekristenan menjadi percuma jika rajin duduk di bangku gereja
setiap minggu, tetapi di luar gereja masih suka menipu, masih suka memaki, atau masih menyimpan dendam. Ajaran
yang sehat harus melahirkan perbuatan yang benar.
2. Pesan untuk Setiap Generasi dalam Keluarga (Ayat 2-6)
Paulus tidak memberikan teori yang melangit, tetapi ia langsung
menukik pada kehidupan nyata sehari-hari, mulai dari urusan keluarga. Paulus memberikan pesan khusus untuk
setiap kelompok umur, karena memuliakan Tuhan itu tidak kenal batas usia. Untuk para orang tua, para ayah dan
ibu yang sudah berumur, para kakek dan nenek, Paulus berpesan agar mereka menjadi teladan kebaikan. Paulus
mengingatkan para perempuan yang lebih tua agar tidak suka bergosip. berarti "jangan menjadi seperti iblis/pemfitnah"), melainkan menjadi pembimbing yang sabar bagi anak-anak muda. Usia tua dipanggil untuk menjadi tiang penyangga yang kokoh bagi generasi di bawahnya. Untuk para
suami dan istri yang masih muda, Paulus berpesan agar mereka rajin mengurus rumah tangga, saling mengasihi,
dan hidup bijaksana. Mengapa urusan rumah tangga ini begitu penting? Ketika Paulus berkata 'supaya firman Allah
jangan dihujat' . ia bukan sedang mengajarkan sekadar menjaga citra
gereja di mata masyarakat. Motivasi utama kekudusan kita adalah kasih kepada Allah. Kalau keluarga Kristen
berantakan, sering KDRT, atau suami-istri kerjaannya bertengkar sampai terdengar tetangga, orang di luar sana akan
mempertanyakan tentunya. Seorang pelayan bercerai maka mereka akan berkata, "Katanya orang Kristen, rajin ke
gereja, tapi kok keluarganya hancur?" Memuliakan Tuhan harus dimulai dari meja makan dan ruang tamu di rumah
kita sendiri. Ketika dunia melihat integritas kita, tujuan akhirnya bukanlah supaya gereja kita dipuji, melainkan
seperti kata Yesus dalam Matius 5:16: 'supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu
yang di sorga'.Kemudian, untuk para pemuda dan anak-anak remaja, pesan Paulus sangat singkat tapi sangat berat.
"Kuasailah dirimu" Di tengah zaman yang menawarkan kebebasan tanpa batas, benteng
pertahanan anak muda Kristen adalah penguasaa diri dan kejernihan pikiran. Penguasaan diri ini bukan sekadar soal mengurangi main HP, tapi merupakan keberanian untuk berkata 'TIDAK' pada gaya hidup hedonisme, menolak godaan jalan pintas seperti judi online, menjaga kekudusan tubuh di tengah pergaulan bebas, pornografi, narkoba, dan memiliki mentalitas yang kuat saat menghadapi depresi atau krisis identitas. Berani hidup berbeda dan berintegritas adalah cara paling nyaring bagi anak muda untuk memuliakan Tuhan hari ini.

3. Kepemimpinan yang Menjadi Cetakan Keteladanan (Ayat 7-8)

Paulus berbicara kepada Titus sebagai seorang pemimpin "Jadikanlah dirimu sendiri
suatu teladan" . Artinya adalah "cetakan" (seperti cetakan kue atau cap stempel).
Seorang pemimpin harus bisa menjadi cetakan kebaikan, siapa pun yang dekat dengannya akan "tercetak"
menjadi orang baik juga! Sebagai orang tua di rumah, atau sebagai pelayan dan majelis di gereja, kita tidak bisa
hanya pintar menyuruh. Kita tidak bisa berkata kepada anak kita, "Nak, kamu jangan main HP terus, rajinlah
berdoa," padahal kitanya sendiri sibuk bermain HP dan jarang berdoa. Kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan
yang memberi contoh nyata. Integritas kita yaitu kesamaan antara apa yang kita ucapkan dan apa yang kita lakukan
akan membuat lawan-lawan kehilangan kata-kata dan tidak menemukan satu pun celah keburukan untuk
menyerang iman kita.

4. Memuliakan Injil di Tempat Kerja (Ayat 9-10)
Pada bagian akhir, ayat 9 dan 10, Paulus memberikan nasihat kepada para hamba. Kalau di zaman sekarang, hamba
ini bisa kita samakan dengan para karyawan, buruh, pegawai negeri, atau siapa saja yang bekerja sebagai bawahan
di tempat kerja. Pesan Paulus, Bekerjalah dengan taat, jujur, jangan suka
membantah dengan kasar, dan yang paling penting: jangan mencuri. Mengkorupsi waktu kantor, memakai fasilitas kantor untuk kepentingan
pribadi, atau mark-up nota belanja, itu semua merupakan tindakan mencuri yang mempermalukan nama Tuhan.
Tentu saja, ketaatan yang Paulus maksud di sini bukanlah ketaatan buta yang membenarkan penindasan, eksploitasi
ketenagakerjaan, atau menyuruh kita diam saat hak-hak kita dirampas. Pesan utamanya adalah tentang etos kerja
dan integritas. Sekalipun mungkin atasan tidak adil, atau sistem di tempat kerja rusak, maka tetap memilih bekerja
dengan jujur dan tidak korupsi. Karena pada hakikatnya, melalui profesi, ia sedang melayani Tuhan,
bukan sekadar melayani manusia. Sebaliknya, Paulus memberikan sebuah alasan di
ayat 10. Ia berkata, kalau orang Kristen bekerja dengan jujur dan setia, mereka sedang "memuliakan ajaran Allah,
Juruselamat kita." Dari kata inilah kita mendapat kata "Kosmetik" di zaman modern. Injil keselamatan itu pada
dasarnya sudah sempurna dan mulia, tetapi Tuhan memberi hak istimewa untuk "mendandani" Injil itu
agar semakin terlihat menarik dan mempesona di mata dunia yang sangat sekuler, lewat cara kita bekerja!
Paulus tidak sedang memberikan tuntutan moral tanpa memberikan fondasi anugerah. Itulah
sebabnya tepat setelah perikop kita ini, di ayat 11 Paulus menegaskan: Karena kasih karunia Allah yang
menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Tuhan Yesus memberkati kita dalam mempraktikkan Firman-Nya. Amin.
← Kembali ke Daftar Khotbah