YESAYA 56 : 1 – 8 : Membuka Trito-Yesaya dengan menegaskan bahwa keselamatan Allah bersifat universal. Allah memanggil umat-Nya untuk hidup taat hukum dan menegakkan keadilan.Ada 3 sasaran misi Allah: Bangsa Israel - Dipanggil kembali taat pada hukum dan Sabat sebagai tanda perjanjian.Orang Asing / Goyim - Yang dulu terpinggirkan, kini disambut Allah jika beribadah kepada-Nya.Orang Kebiri - Yang dianggap "tidak sempurna", kini diberi tempat dan nama kekal dalam rumah Tuhan.Allah menyatakan: Bait-Nya adalah "rumah doa bagi segala bangsa". Tidak ada lagi sekat suku, bangsa, atau kondisi fisik bagi orang yang mencari Dia.Panggilan bagi Gereja Hari Ini
Di tengah dunia yang masih penuh diskriminasi, Gereja dipanggil menjadi wujud nyata hukum dan keadilan Allah. Kita dipanggil setia, membuka diri, dan menjadi alat sukacita serta keselamatan bagi semua orang.Tuhan memberkati kita dengan kesehatan dan sukacita dalam beribadah di Minggu ini.
Selamat Hari Minggu
Tuhan memberkati kita dengan kesehatan dan sukacita dalam beribadah di Minggu ini.
Pasal 56 kitab Yesaya ini adalah pembukaan untuk kitab ketiga atau sering disebut Trito Yesaya. Menekankan bahwa Allah dasar dari keselamatan dan pembebasan umatNya, dengan tujuan untuk menjadikan mereka orang-orang yang taat hukum dan penegak keadilan di tengah-tengah dunia. Dalam perikop kita ada 3 yang menjadi sasaran terwujudnya Misi Allah untuk menyelamatkan seluruh dunia, yaitu 1. Bangsa Israel sebagai Umat pilihanNya sendiri, 2. orang-orang Asing yang disebut dengan Goyim dan 3. orang-orang Kebiri. Allah mau menyatakan kesetiaanNya mewujudkan janji keselamatan yang universal.
Bagi bangsa Israel, pembebasan dari perbudakan Babel adalah sebuah sukacita besar untuk bisa kembali ke kampung halamannya di Yerusalem. Namun ternyata tidak semua umat itu yang merasakan sepenuhnya sukacita kemerdekaan atas kepulangan itu. Pada tahun-tahun pertama sejak Koresy Raja Persia menyuruh mereka pulang, masih kompak untuk membangun kembali tembok-tembok Yerusalem dan juga Bait Allah yang baru (Ezra 5 : 14-16). Mungkin masih dipengaruhi perasaan sedih melihat kondisi Yerusalem yang hancur dan tinggal puing-puing saja. Tetapi tahun-tahun berikutnya mulailah mereka memperhatikan kepentingan dirinya sendiri, terutama orang-orang yang lebih mampu/berada telah mementingkan pembangunan rumah mereka sendiri, sedangkan orang-orang miskin masih banyak dan tidak bisa berbuat apa-apa (Hag. 1: 4-6; Yes. 58: 6-10). Itulah lewat Yesaya 56: 1-8 ini Allah datang sebagai pembebas dan pemberi keselamatan secara adil dan merata. Bukan hanya bagi bangsa Israel tetapi juga untuk semua orang yang mengalami penindasan dan penderitaan yang menggantungkan diri hanya kepada Tuhan. Ini adalah kabar baru dimana Allah membuka ruang keselamatan itu bagi segala bangsa dan semua orang.
a. Ayat 1 – 2 : Taatilah Hukum dan tegakkan keadilan
Ini bukanlah perintah baru bagi bangsa Israel tetapi selama di pembuangan hukum itu hampir hilang, untunglah ada Ezra yang selalu menyimpan, mempelajari dan mengajarkan kembali kepada umat Israel (Ezra 7 : 10 ff). Begitulah cara Allah tetap memelihara HukumNya dan menyatakan itu sebagai bagian dari perjanjianNya dengan umatNya. Dengan membebaskan mereka dari perbudakan, Allah mau mereka tetap menjadi alatNya untuk menunjukkan hukum dan keadilannya. Kata “Mishpat” memiliki arti yang lebih luas dari pada sekedar peraturan hukum. Maknanya lebih kepada penerapan hukum itu secara benar dan berkeadilan, keputusan yang benar, pemerintahan yang benar berdasarkan kehendak Allah, karena Allah itu sendirilah hukum dan keadilan. Mishpat bukan hanya soal urusan keputusan dalam pengadilan, tetapi seluruh tatanan kehidupan masyarakat yang mencerminkan pemerintahan Allah. Dengan demikianlah mereka menjadi orang yang berbahagia, yang memelihara Sabat dan menjaga diri dari yang jahat. Sabat tidak hanya berhenti dari pekerjaan tetapi adalah bukti perjanjian iman, kasih, kesetiaan, ibadah dan hidup yang selalu berpusat kepada Tuhan.
b. Ayat 3 – 5 : Orang-orang asing dan Orang-orang Kebiri disambut oleh Allah
Berdasarkan hukum Musa orang-orang asing dan kebiri tidak diperbolehkan masuk dalam jemaat Israel (Ulangan 23 : 1 - 9). Orang asing (goyim) adalah orang yang bukan dari keturunan Israel; sementara orang kebiri (Eunoukhos) adalah orang yang dianggap tidak sempurna (cacat fisik) atau yang sengaja dikebiri untuk tugas tertentu di kerajaan, tidak dapat meneruskan keturunan. Mereka dapat tinggal bersama dengan Israel tetapi tidak memperoleh hak yang sama dalam hukum terutama peribadahan Israel. Walaupun mereka memiliki keinginan dan kerinduan untuk bergabung secara sosial dan religius tetapi mereka mengalami pembatasan yang sangat ketat. Sehingga mereka hidup dengan beban kehinaan dan perasaan tak berguna yang selalu melekat pada dirinya. Namun mereka juga bagian dari kemerdekaan ini, maka Allah berkata : janganlah orang asing berkata “"Sudah tentu TUHAN hendak memisahkan aku dari pada umat-Nya"; dan janganlah orang kebiri berkata: "Sesungguhnya, aku ini pohon yang kering." Ungkapan ini tentu mengejutkan bagi Israel, tetapi itulah hukum dan keadilan yang dikehendaki Allah yang harus mereka hidupi. Bahwa perbedaan suku, asal usul bangsa, warna kulit dan perbedaan fisik lainnya tidak boleh menjadi penghalang bagi mereka yang sungguh-sungguh mencariNya. Bukan itu saja, Allah akan menempatkan mereka setara dengan Israel dalam panggilan masuk ke dalam persekutuan denganNya. Klaim eksklusif keselamatan Israel tidak lagi dipahami secara kaku, mereka memiliki keistimewaan yang sama dengan siapa pun yang melekatkan diri pada TUHAN: memiliki Bait, hukum, ibadah, Tuhan dan Janji keselamatan yang sama. Inilah penerapan hukum dan keadilan sejati yang sungguh-sungguh harus menjadi bagian dari kehidupan Israel. Tuhan Yesus telah menggenapinya saat Dia telah menyerahkan nyawaNya untuk semua orang dan segala makhluk. Paulus menjelaskan bahwa melalui iman kepada Kristus, baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi menjadi satu Umat Allah (Galatia 3 : 28 – 29; Efesus 2 : 11 – 22).
c. Ayat 6 – 8 : Semua orang sama bagi Allah untuk melayaniNya
Dengan sambutan TUHAN, orang asing dan kebiri bukan saja diminta untuk memelihara hari Sabat dan perjanjian serta hukum Tuhan, mereka pun akan dipanggil untuk melayani dan menjadi pelayan Tuhan. Karena yang biasanya melakukan ini adalah para imam dan orang-orang Lewi, maka orang-orang asing tersebut diminta mempersiapkan diri dengan belajar arti segala tindakan di dalamnya, naskah-naskah yang ada serta menyediakan korban-korban yang layak. Mereka juga harus mengasihi “Nama TUHAN (Yahwe), nama yang sesungguhnya dari Tuhan yang pernah mereka kenal, sama seperti semua Israel yang menjadi hamba-hamba Tuhan (Yes. 43: 9 – 10). Dengan demikian mereka boleh datang ke gunung kudus tempat Bait Suci (Yerusalem), ikut serta dalam kesukaan di hari raya, memberi korban-korban yang berkenan kepada Allah bersama-sama Israel secara umum. Dengan demikianlah Allah menyebut Bait Suci Israel menjadi “rumah doa bagi segala bangsa” (bnd. Yes. 2 : 1 – 4; Maleaki 1 : 11 – 12). Maka pembebasan Israel dari perbudakan adalah penegakan hukum dan keadilan bagi segala bangsa. Tidak ada lagi yang terbuang dan tersisihkan semua yang mencari Allah akan dihimpun dalam persekutuan perjanjianNya.
Keselamatan yang universal itulah sebenarnya yang telah dirancang Allah sejak dari semula. Tetapi baik bangsa Israel pun tidak melihat itu sebagai visi Allah dalam panggilan mereka.
Gereja pun sejak abad pertama belum sepenuhnya menunjukkan hidup yang taat dalam hal penegakan hukum dan keadilan. Mereka masih memperlakukan orang berdasarkan suku, bangsa, ras, golongan, status bahkan kondisi fisik. Bagaimana kita melihat gereja saat ini, apakah diskriminasi sudah dihapuskan? Ingat! Allah sudah menghapuskannya sejak awal. Allah butuh umatNya/gereja sebagai media wujud hukum dan keadilan tegak di dunia ini.
Saat ini, kalau bukan gereja, orang Kristen, para hamba-hambaNya; tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Tokoh adat di setiap daerah: merekalah pemelihara diskriminasi dan yang selalu memperkokoh tembok pemisah diantara perbedaan yang ada. Negara dan pemerintah: juga hanya berbicara tentang hukum dan keadilan, mereka cuma penegak hukum dan keadilan di podium dan di atas kertas saja. Besok 81 tahun Indonesia merdeka, makin jauh rasanya hidup berkeadilan dan mendapatkan hukum yang benar di negara ini. Slogan ‘demi kemakmuran dan kesejarteraan rayat kecil’ dibuktikan dengan tagihan upeti lewat pajak di segala bidang.
Allah menghendaki umatNya dan kita semua untuk hidup berkeadilan dan taat hukum, setia kepada perjanjianNya dan membuka diri sebagai rumah Tuhan dan rumah doa, alat sukacita dan keselamatan bagi segala bangsa. Gereja (orang Kristen )-lah yang paling pokok mencerminkan ini dalam kehidupannya. Apa pun posisi kita, mari menjadi penegak hukum dan keadilan, karena itulah yang dikehendaki Allah atas keselamatan kita.. Amin